Just another WordPress.com weblog

__Belahan Jiwa___

__Belahan Jiwa___ by:Ilham
for everyone
Ada kalanya seseorang memiliki pasangan hidup berparas menarik,
tapi omongannya pedas dan menyakitkan. Yang lain barangkali rupawan,
ucapan enak didengar tetapi sangat boros. Ada pula seseorang yang pandai
menyenangkan pasangan, pandai mengatur keuangan, namun kurang
rajin beribadah.

”Manusia itu seperti unta. Di antara 100 ekor unta, sangat sulit kamu
menemukan seekor yang sangat baik tunggangannya. ” (HR Bukhari Muslim).
Bagi istri hampir tidak mungkin mendapatkan suami yang gagah perkasa,
mulia, dermawan, berilmu luas, banyak sedekah, pandai mengendalikan
amarah, mudah memaafkan orang lain, dan romantis. Bagi suami hampir
tidak mungkin memiliki seorang istri yang cantik, pandai menyenangkan
suami, cekatan, pintar mengelola keuangan, rajin beribadah, serta sejuta
sifat baik lainnya.

Nasihat Rasulullah SAW, berkenaan kekurangan yang ada pada
pasangan kita, ”Hendaknya seorang mukmin tidak meninggalkan
seorang mukminah. Kalau dia membenci suatu perangai pada diri
istrinya, dia pasti menyenangi perangai yang lain.” Pesan Rasulullah
senapas dengan firman-Nya, ”Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka,
(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa [4]: 19).

Tentu saja bukan berarti kita membiarkan begitu saja beberapa aib ataupun
kekurangan pasangan kita. Harus ada usaha berupa perkataan (nasihat lisan)
maupun perbuatan (nasihat dengan teladan) untuk memperbaiki kekurangan
pasangan. Namun tentu saja, usaha perbaikan tersebut harus dengan keikhlasan
serta cara yang sebaik mungkin kita mampu.

Hendaknya kita melihat tindakan memberi nasihat merupakan penunaian
kewajiban menyampaikan ilmu ataupun nilai kebaikan yang orang lain
pada saat itu belum memilikinya. Tentu saja dengan tetap menyadari
orang yang kita nasihati memiliki beberapa kelebihan yang tidak kita miliki.
Selain ikhlas dalam menasihati, penting pula ikhlas dalam menerima nasihat.
Ketika kita dinasihati, hendaknya kita kendalikan serta lunakkan hati kita
untuk ikhlas menerimanya.

Adakalanya suatu nasihat kebenaran akan mendapatkan penolakan
ketika cara penyampaiannya salah. Hendaknya kita pandai memilih
metode dan waktu yang lebih tepat untuk menasihati pasangan kita.
Bil hikmah wa mau’idzhatul hasanah, dengan hikmah serta pelajaran
utama. Semoga apa yang dicontohkan banyak rumah tangga publik figur
belakangan ini, tidak terjadi pada kita amien..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s