Just another WordPress.com weblog

Terbaru

Bahasa Indonesia: Tantangan dan Peluang pada Era Globalisasi

Era globalisasi yang ditandai dengan arus komunikasi yang begitu dahsyat menuntut oara pengambil kebijakan di bidang bahasa bekerja lebih keras untuk lebih menyempurnakan dan meningkatkan semua sektor yang berhubungan dengan masalah pembinaan bahasa. Sebagaimana dikemukakan oleh Featherston (dalam Lee, 1996), globalisasi menembus batas-batas budaya melalui jangkauan luas perjalanan udara, semaki luasnya komunikasi, dan meningkatnya turis (wisatawan) ke berbagai negara.
Melihat perkembangan bahasa Indonesia di dalam negeri yang cukup pesat, perkembangan di luar negeri pun sangat menggembirakan. Data terakhir menunjukkan setidaknya 52 negara asing telah membuka program bahasa Indonesia (Indonesian Language Studies). Bahkan, perkembangan ini akan semakin meingkat setelah terbentuk Badan Asosiasi Kelompok Bahasa Indonesia Penutur Asing di Bandung tahun 1999. Walaupun perkembangan bahasa Indonesia semakin pesat di satu sisi, di sisi lain peluang dan tantangan terhadap bahasa Indonesia semakin besar pula. Berbagai peluang bahasa Indonesia dalam era globalisasi ini antara lain adanya dukungan luas dari berbagai pihak, termasuk peran media massa. Sementara itu, tantangannya dapat dikategorikan atas dua, yaitu tantangan internal dan tantang eksternal. Tantang internal berupa pengaruh negatif bahasa daerah berupa kosakata, pembentukan kata, dan struktur kalimat. Tantangan eksternal datanga dari pengaruh negatif bahasa asing (teruatama bahasa Inggria) berupa masuknya kosakata tanpa proses pembenukan istilah dan penggunaan struktur kalimat bahasa Inggris.
Mencermati berbagai peluang dan tantang tersebut, memunculkan serangkaian pertanyaan berikut.
– Mampukah bahasa Indonesia mempertahankan jati dirinya di tengah arus tarik-menarik dari dua tantangan tersebut?
– Apakah peluang-peluang yang mendukung pembinaan bahasa Indonesia dalam mempertahankan jati diri bahasa Indonesia?
– Apa saja tantangan-tantangan masa depan terhadap perkembangan bahasa Indonesia dalam arus tarik-menarik tersebut?
– Bagaimana upaya penanggulangan terhadap tantangan-tantangan tersebut?

Potret Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi

Era globalisasi akan menyentuh semua aspke kehidupan, termasuk bahasa. Bahasa yang semakin global dipakai oleh semua bangsa di dunia ialah bahasa Inggris, yang pemkainya lebih dari satu miliar. Akan tetapi, sama hanya denga bidang-bidang kehidupan laian, sebagaimana dikemukakan oleh Naisbii (1991) dalam bukunya Global Paradox, akan terjadi paradoks-paradoks dalam berbagai komponen kehidupan, termasuk bahasa. Bahasa Inggris, misalnya, walaupun pemakainya semakin besar sebagai bahasa kedua, masyarakat suatu negara akan semakin kuat juga memempertahankan bahasa ibunya. Di Islandia, sebuah negara kecil di Erpa, yang jumlah penduduknya sekitar 250.000 orang, walaupun mereka dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Inggris seabagai bahasa kedua, negara ini masih mempertahankan kemurnian bahasa pertamanya dari pengaruh bahasa Inggris. Di Kubekistan (Guebec), yang salama ini peraturan di negara bagian ini mewajibkan penggunaan bahasa Perancis untuk semua papan nama, sekarang diganti dengan bahasa sendiri. Demikian juga negara-negara pecahan Rusia seperti Ukraina, Lithuania, Estonia (yang memisahkan diri dari Rusia) telah menggantikan semua papan nama di negara tersebut yang selama itu menggunakan bahasa Rusia.
Bagaimana halnya dengan di Indonesia? Di Indonesia, fenomena yang sama pernah dilakukan dengan pengeluaran Surat Menteri Dalam Negeri kepada gubernur, bupati, dan walikota seluruh Indonesia Nomor 1021/SJ tanggal 16 Maret 1995 tentang Penertiban Penggunaan Bahasa Asing. Surat itu berisi instruksi agar papan-papan nama dunia usaha dan perdagangan di seluruh Indonesia yang menggunakan bahasa asing agar diubah menjadi bahasa Indonesia. Ketika awal pemberlakukan peraturan tersebut, tampak gencar dan bersemangat usaha yang dilakukan oleh pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Pemda DKI Jakarta, misalnya, bekerja sama dengan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa mengadakan teguran-teguran lisan dan tertulis, bahkan turun ke lapangan mendatangi perusahaan-perusahaan yang papan namanya menggunakan bahasa Inggris atau mencampuradukkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan struktur bahasa Inggris. Misalnya, sebelumnya terpampang “Pondok Indah Mall”, “Ciputra Mall”, “Lippo Bank”, “Mestika Bank”, dan lain=lain, sekarang diubah menjadi “Mal Pondok Indah”, “Mal Ciputra”, “Bank Lippa”, “Bank Mestika”.
Berbagai fenomena dan kenyataan itu akan semakin mendukung ke arah terjadinya suatu pertentangan (paradoks) dan arus tarik-menarik antara globalisasi dan lokalisasi. Persoalan berikutnya adalah mampukah bahasa Indonesia mempertahankan jati dirinya di tengah-tengah arus tarik-menarik itu? Untuk menjawab persoalan ini, marilah kita menengok ke belakang bagaimana bahasa Indonesia yang ketika itu masih disebut bahasa Melayu mampu bertahan dari berbagai pengaruh bahasa lain baik bahasa asing maupun bahasa daerah lainnya di nusantara. Sejauh ini tanpa terasa banyak kosakata yang sebenarnya hasil serapan dari bahasa lain tetapi sudah kita anggap sebagai kosakata bahasa Melayu/Indonesia. Misalnya sebagai berikut.

Bahasa Asal: Contoh Kata yang Diserap:
• Bahasa Sanskerta agama, bahasa, cerita, cita, guru, harta, pertama, sastra, sorga, warta
• Bahasa Arab alam, adil, adat, daif, haram, haji, kitab, perlu, sah, subuh, hisab, madrasah, musyawarah
• Bahasa Belanda pipa, baut, kaos, pesta, peluit, setir, brankas, balok, pelopor, dongkrak, nol, bom, saku
• Bahasa Inggris kiper, kornel, tim, gol, final, tes, organisasi, proklamasi, legal, administrasi, stop,
• Bahasa Cina loteng, kue, kuah, the, cengkeh, cawan, teko, anglo, toko, tauco
• Bahasa Tamil mempelai, keledai, perisai, tirai, peri, cemeti, kedai, modal, pualam, ragam, gurindam
• Bahasa Portugis meja, kemeja, gereja, bendera, peluru, almari, mentega, roda, lentera, armada, paderi
• Bahasa Parsi bandar, syahbandar, kenduri, kelasi, anggur, istana, tamasya, takhta, nakhoda, bius
• Bahasa Jawa gampang, ngawur, ruwet, sumber, jago, lebaran, bisa, tanpa, sengit, ajeg, tuntas
• Bahasa Sunda Camat, garong, lumayan,melotot, ompreng, pencoleng, mending, nyeri, anjangsana, tahap
• Bahasa Minangkabau cemooh, ejek, bak, enau, engkau, semarak, heboh, cetus, ngarai, taut

Kesemua kata-kata tersebut menjadi kosakata bahasa Indonesia melalui proses adaptasi sehingga sesuai dengan sistem bahasa Indonesia. Jadi, agaknya proses membuka diri terhadap pengaruh kosakata asing sudah berlangsung lama dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pada era globalisasi ini kekhawatiran yang sangat mendalam terhadap pengaruh masuknya unsur-unsur asing terhadap bahasa Indonesia tidak terlu terjadi. Yang perlu dicermati adalah penagaruh asing tersebut harus diarahkan ke perkembangan yang positif terhadap bahasa Indonesia. Bahkan, sedapat mungkin kita mencari peluang-peluang dari pengaruh globalisasi ini bagi kamajuan perkembangan bahasa Indonesia.

Berbagai Peluang bagi Pengembangan Bahasa Indonesia

Pada masa-masa mendatang, terutama pada era global ini, sumber daya manusia memegang peranan yang sangat menentukan kadar keberhasilan sesuatu, termsuk keberhasilan pembinaan dan pengembangan bahas. Oleh karena itu, para pemegang kebijakan dan pelaksana di lapangan harus pandai-pandai memanfaatkan peluang sebaik-baiknya, sekecil apa pun peluang itu. Di antara sekian peluang yang ada, peluang berikut kiranya perlu dipertimbangkan.

a. Adanya Dukungan Luas
Telah dikemukakan bahwa pembinaan bahasa Indonesia dari waktu ke waktu memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan.Hal ini disebabkan oleh adanya dukungan, terutama dari pemerintah. Dukungan tersebut dapat kita lihat dengan terbitnya surat dan program berikut.
(1) Instruksi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Nomor 20, tanggal 28 Oktober 1991, tentang Pemsyarakatan Bahasa Indonesi dalam Rangka Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Bangsa;
(2) Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor I/U/1992, tanggal 10 April 1992, tentang Peningkatan Usaha Pemasyarakatan Bahasa Indonesia dalam Memperkukuh Persatuan dan Kesatuan Bangsa;
(3) Surat Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur, Bupati, dan Walikoa seluruh Indonesia, Nomor 1021/SJ, tanggal 16 Maret 1995, tentang Penertiban Pangginaan Bahasa Asing;
(4) Pencangan Disiplin Nasional oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 Mei 1995 yang salah satu butirnya adalah penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar; dan
(5) Kegiatan Bulan Bahasa yang dilakukan setiap bulan Oktober, yang dipelopori oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sebagai tindak lanjut dari dkungan pemerintah tersebut, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa telah dan akan terus menjalin kerja sama dengan Pemerintah Tingkat I di seluruh Indonesia. Program kerja sana itu meliputi:
(1) Penyuluhan bahasa Indonesia untuk la;pisan masyarakat;
(2) Penyegaran keterampilan berbahasa;
(3) Penataran tentang penyusunan berbagai naskah dinas; dan
(4) Penertiban penggunaan bahasa Indonesia di tempat-tempat umum, seperti papan nama, iklan, papa petunjuk, rambu lalu-lintas, dan kain rentang (spanduk)
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa ndonesia pada masa-masa mendatang diharapkan lebih menampakkan peranannya dalam kehidupan modern. Sebab, bahasa Indonesia tidak hanya sekadar sebagai alat komunikasi dalammasyarakat yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang beraneka ragam, tetapi juga merupakan pembentuk sikap budaya bangsa Indonesia dan sekaligus sebagai penanda jati diri bangsa Indonesia. Hal ini dapat terwujud apabila pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia berjalan dengan sebaik-baiknya dengan memanfaatkan setiap peluang yang ada, seperti dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak lainnya dalam berbagai bentuk.

b. Peran Serta Media Massa
Tidak dapat disangkal bahwa media massa memberikan andil bagi pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Kata dan istilah baru, baik yang bersumber dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, pada umumnya lebih awal diakai oleh media massa, apakah di media surat kabar, radio, atau televisi. Media massa memang memiliki kelebihan. Di samping memiliki jumlah pembaca, pendengar, dan pemirsa yang banyak, media mass mempunyai pengaruh yang besar di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, media massa merupakan salah satu mitra kerja yang penting dalam pelancaran dan penyebaran informasi tentang bahasa. Seiring dengan itu, pembinaan bahasa Indonesia di kalangan media massa mutlak diperlukan guna menangkal informasi yang menggunakan kata dan istilah yang menyalahi kaidah kebahasaan. Kalangan memdia massa harus diyakinkan bahwa mereka juga pembinan bahasa seperti kita.
Keberadaan media massa meruloakan suatu peluang yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Terkait dengan itu, Harmoko (1988), ketika menjadi Menteri Penerangan, menyarankan bahwa pers sebaiknya memuat ulasan atau menyediakan ruang pembinaan bahasa Indonesiasebagai upaya penyebaran pembakuan yang telah disepakati bersama. Di samping itu, pers diharapkan mampu mensosialisasikan hasil-hasil pembinaan dan pengembangan bahasa, dan mampu menjadi contoh yang baik bagi masyaralat dalam hal pemkaian bahasa Indonesia yang baik dan benar. Harapan ini sangat mungkin bisa direalisasikan karena pers telah memiliki pedoman penulisan yang disebut Pedoman Pnulisan Bahasa dalam Pers.
Melihat perkembangan pers saat ini, khsususnya setelah euforia reformasi, banyak hal yang memprihatinkan, khususnya dalam etika berbahasa. Hampir setiap hari berbagai hujatan dan ejekan keras terus diarahkan kepada beberapa pejabat Orde Baru dengan berbagai masalah yang menimpa mereka ketika berkuasa. Dengan berpijak pada istilah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), pers dengan leluasa memberikan opini dengan pernyataan-pernyataan yang bernada ‘menghakimi’ oknum yang bersangkutan. Bahasa yang terkesan keras bahkan kasar ini kalau terus-meneerus mewarnai pers, tentu akan berpengaruh negatif pada pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, kerana mesyarakat luas akan dengan mudah menirukannya.

Berbagai Tantang dan Upaya Penanggulangannya
Masalah pembinaan dan pengembangan bahasa selama ini telah memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Hal ini tidak berarti di seputar itu tidak ada hambatan atau tantangan yang memerlukan penanganan yang serius. Pada masa-masa mendatang pembinaan dan pengembangan bahasa dihadapkan kepada berbagai tantangan yang apabila hal itu tidak ditangani dengan sungguh-sungguh akan menjadi kerikil-kerikiltajam yang dapat menghambat usaha tersebut.
Tantangan-tantangan yang patut dipertimbangan itu antara lain sebagai berikut.

a. Sumber Daya Manusia (SDM)
keberhasilan suatu program dan usaha sangat banyak ditentukan oleh sumber daya manusianya. Keberhasilan pembinaan dan pengembangana bahasa pu antara lain juga bergantung kepada manusia pelaksananya. Sehubungan dengan itulah, sosok yang memegang kendali dalam pembinaan dan pengembangan bahasa padamasa-masamendatang dituntut lebih profesional lagi di bidangnya.
Kemajuan atau perkembangan dalam segala sektor kehidupan sebagai dampak kemajuan ilmu dan teknologi menuntut fungsi optimal bahasa Indonesia sebagai saranan komunikasi masyarakat Indoesia. Bahasa Indonesia dituntut lebih efektif dan efisien dalam mewadahi berbagai konsep yang diperlukan masyarakat Idonesia yang semakin terbuka dan modern. Bahasa Indonesia juga harus bisa memenuhi keperluan masyarakat pemakainya dalam berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, pendidikan, pengetahuan, teknologi, keamanan, dan kebudayaan (Moeliono, 1985). Dengan kata lain, bahasa Indonesia harus bisa mewujudkan jati dirinya sebagai bahasa modern, sebagaimana yang diamanatkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) (Lihat GBHN 1998).
Hal tersebut hanya dapat terwujud apabila upaya pembinaan dan pengembangan bahasa berjakan dengan baik. Program itu akan berjalan sebagaimana yang diharapkan apabila didukung oleh manusia yang berkualitas, baik yang duduk sebagai pemegang kebijakan maupun yang terjun langsung ke lapangan. Oleh karena itu, peningkatan sumber daya manusia harus dilakukan, baikmelalui jalur formal maupun jalur nonfomal.

b. Bahasa Asing dan Gengsi Sosial
Salah satu butir tujuan pembinaan bahasa Indonesia ialah membina sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Hal ini memberikan isyarat bahwa madsalah sikap merupakan faktor yang paling menentukan keberhasilab pembinaan tersebut. Dari sikap positif inilah akan tumbuh kecintaan dan kebanggan berbahasa Indonesia.
Sikap positif terhadap bahasa Indonesia akhit-akhir ini memang sudah menampak, walaupun belum seperti yang kita harapkan. Hal ini berarti bahwa pembinaan bhasa Indonesia yang telah dilaksanakan oleh pemerintah dalam berbagai bentuknya telah menmpakkan hasil yang cukup menggembirakan. Bahasa Indonesia telah memperlihatkan peranannya dalam kehidupan bangsa Indonesia, baik sebagai sarana komunikasi maupun sebagai pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan supaya bahasa Indonesia benar-benar menjadi kebanggan kita sebagai bangsa Indonesia.
Jika kita berbicara tentang gengsi sosial dalam huungannya dengan bahasa Indonesia secar jujur masih memerlukan penanganan yang serius, baik yang menyangkut pembinaan maupun pengembangannya. Gengsi sosial bahasa Indonesia masih kalah tinggi dengan gengsi sosial bahasa asing (terutamabahasa Inggris) memang kita akui, dan ahal ini merupakan tantangan. Namun, hal ini janganlah kita tinggal diam dan pesimis. Sebaliknya, kita harus nelakukan upaya-upaya yang dapat mengangkat gengsi sosial atau martabat bahasa Indonesia sehingga dapat sejajat dengan bahasa-asinhg asing yang sudah maju,mempunyai nama (prestise), dan berpengaruh besar di kalangan masyarakat.Salah satu cara yang bisa dilakukan agar bahasa Indonesia mempunyai gengsi sosial yang tinggi di kalangan masyatakat Indonesia adalah memberikan penghargaan yang proporsional kepada anggota masyarakat yang mampu berbahasa Indonesia (baik lisan maupun tulis) dengan baik dan benar, sebagai bagian dari porestasi yang bersangkutan. Misalnya, sedbagai persyaratan pengangkatan pegawai negeri atau karyawan, sebagai perssuaratan promosi jabatan, pemberian royalti yang layak kepada penulis/pengarang di bidang masing-masing dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bahasa Indonesia harus diarahkan ke sana. Tentu saja hal ini berkaitan dengan berbagai faktor, misalnya perencanaan yang matang dan menyeluruh, dukungan pemerintah yang optgimal, dan keterlibatan masyarakat Indonesia sebagai pemakai dan pemilik bahasa Indonesia. Karena bahasa merupakan hasil budaya, tentu memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadikan bahasa Indonesia sesuai dengan yang kita cita-citakan. Tetapi, kalau komitmen kita benar-benar kita jalankan, harapan itu akan terwujud.

pintakuuu

sebuah pertemuan pasti akn berujung prpisahan

bgitu lah aku sekarang

kini kau mnyuruhku utk melupakanmu

dan membiarkan aku menyayangi org lain yg tdk aku sayangi

kau tau

caramu itu telah mengajariku mnjadi orang yang munafikk

aku slalu sabar dgn semua in

tp apabila memang itu mau mu

terima kasihh

aku akan melupakanmu

sekuat hatiku tenagaku serta jiwa dan ragaku

sebelum itu aku lakukan

ada satu pinta ku

  • “tamparlah aku sepuas hatimu
  • agar aku bisa melupakanmu selamanya”

belajar tanpa dia

akku

aku

SO7 13th Anniversary

Tanggal 6 Mei 2009 SO7 akan genap berusia 13 tahun. Usia yang sudah cukup matang buat perjalanan sebuah band yang telah merilis 6 album. Mengucap rasa syukur tentu saja menjadi kegiatan utama dalam rangka perayaan ulang tahun nanti. Selain itu rencananya akan ada event khusus yang akan dibuat pada tanggal 9 Mei 2009.
Berharap semua SheilaGank dari penjuru tanah air bisa berkumpul bersama di kota tercinta Yogyakarta. Nantikan info lebih lanjut lagi. (*)

Brian

Nama Lengkap : Brian Kresna Putro
Nama Panggilan : Brian
Posisi : Drummer
Tempat/Tgl. Lahir : Jakarta, 22 Januari 1981
Tinggi/Berat : 168/63
Agama : Islam
Anak ke/bersaudara : 1/3
Hobby : Musik, Film
Tokoh Idola : –
Warna Fave : Biru,Putih
Pakaian Fave : Kasual
Acara TV Fave : The Simpsons
Jenis Film Fave : Drama Comedy
Jenis Musik Fave : Rock Alternatif
Lagu Fave : Walk on [U2], Cochise [Audioslave]
Bacaan Buku Fave : –
Motto : Just Walk On
Kuliah : Sarjana Ekonomi Universitas Atmajaya Jakarta
Cita-cita : Musisi

Duta

Nama Lengkap : Akhdiyat Duta Modjo
Nama Panggilan : Duta
Posisi : Vokal
Tempat/Tgl. Lahir : Kentucky, USA, 30 April 1980
Tinggi/Berat : 180/62
Agama : Islam
Anak ke/bersaudara : 1/2
Hobby : Musik, Olahraga
Tokoh Idola : “Pippo” Inzaghi
Warna Fave : Biru
Pakaian Fave : Kasual
Acara TV Fave : Liga Italia Serie A
Jenis Film Fave : Action
Jenis Music Fave : Alternatif
Lagu Fave : Across The Night (Silverchair)
Bacaan Buku Fave : Lucky Luke, Harry Potter
Motto : Maju Terus Pantang Mundur. Hidup Terus!
Kuliah : Sudah pernah
Cita-cita : Musisi yang baik dan Bapak yang profesional… Lho?

Eross Chandra

Eross Candra, atau yang biasa dipanggil Eross lahir pada tanggal 3 Juli 1979. Dari kecil dia sudah mengenal musik. Dulu Mama-nya seorang penyanyi, kakeknya jago main saksofon, dan Om-nya mahir gitar. Jadi gak heran kalo Eross ketularan darah seni keluarganya. Awalnya Eross bercita-cita ingin menjadi pembalap seperti Papa-nya. Namun, setelah berkenalan dengan gitar lewat Om-nya, cita-cita Eross berubah. Eross pengen menjadi gitaris ternama. Kalau Mama-nya lagi nyetel video Bon Jovi, Eross pasti ikut nonton dan ngikutin gayanya gitaris Bon Jovi, Richie Sambora. Sambil nunjuk-nunjuk Richie Sambora dia bilang ke Mama-nya, ”Ma… aku pengen kaya dia”. Lucunya lagi Eross kalo lagi ngikutin gayanya Richie Sambora itu sambil belaga main gitar gitu, kadang-kadang yang dijadiin gitarnya itu sapu kalo engga raketnya. Tuh kan dari kecil aja udah keliatan bakatnya. Masa SD Eross dihabiskan dengan sekolah di SD Percobaan I Yogyakarta. Waktu SD kelas II Eross suka lihat Mama Titin latihan band, karena kebetulan di rumahnya di daerah Karangkajen itu ada studio musiknya. Sejak itulah dia jadi tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang musik, terutama dia tertarik banget ama gitar. Eross suka banget ndengerin Kiss, Europe, dan Bon Jovi. Kaset pertama yang dibeli waktu itu albumnya God Bless. Kalo kaset Barat yang pertama kali dibelinya pas kelas IV SD, kasetnya Europe. Semua itu Eross dapetin dari hasil nabung lho. Sampai-sampai dia rela nggak jajan banyak-banyak biar bisa nabung buat beli kaset. Lulus dari SD, Eross ngelanjutin sekolahnya ke SMP 13 Yogyakarta. Pas SMP kelas II Eross dibelikan gitar sebagai kado ulang tahun ke-14 dari Papa-nya, mereknya Kawasaki. Eh… itu gitar pertamanya Eross loh, sampai sekarang masih disimpen. Dengan gitarnya ini dia belajar gitar lagi dan diajari oleh Om Rus. Waktu itu dia diajari permainan gitar klasik, tapi cuman bertahan tiga bulan aja. Meski gitu dia tetep ngga patah arang untuk belajar gitar. Kelas III SMP Eross pernah juga ikutan band yang personil lainnya udah nikah semua, karena salah satu personilnya pindah kota jadi bubaran. Dulu kadang-kadang selain maen gitar, Eross juga maen drum. Tahun 1995 Eross masuk SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Sama Om Edi, yang dulunya bikin studio di rumah Eross yang Karangkajen, Eross diajakin jadi homeband di Shaka Studio. Nama bandnya itu Dizzy band, barengan dengan Icha dan Adit Jikustik. Di Dizzy band itu Eross satu-satunya yang masih SMA, sedang yang lainnya udah pada kuliah. Jadi Eross paling imut-imut di Dizzy band, abis paling kecil sendiri sih. Waktu kelas I itu juga Eross pindah rumah tinggal dengan Papa-nya. Trus juga ama Eyangnya dia dihadiahi gitar listrik yang jadi gitar listrik pertamanya. Kelas I SMA merupakan masa yang panjang buat Eross, saking banyaknya peristiwa penting yang terjadi pada hidupnya gitu. Saat itu pula Eross kenalan dengan Sakti dan Anton dari sodaranya, Oscar. Dari Sakti, Eross kenal dengan Adam, lalu Duta. Dan akhirnya terbentuklah Sheila Gank. Tepatnya tanggal 6 Mei 1996 di rumahnya Adam. Eross pertama kali manggung pas kelas III SMP, tapi kalo dengan Sheila Gank pertama kali manggung pas ada acara tutup tahun SMA 4 Yogyakarta di Gedung Pamungkas, Kotabaru. Mereka bawain lagunya Bon Jovi “Keep The Faith”, John Lennon “Imagine” ama lagunya Allanis Morissette “Hand In My Pocket”. Dengan Sheila Gank, Eross pernah jadi The Best Guitarist waktu ikut Festival Band DIY di Yogyakarta, di festival itu Sheila Gank Juara I sedang Adam dapet The Best Bassist lho. Sebelumnya sih, Sheila Gank pernah ikut Festival Band se-Jateng dan DIY, dan dapet juara III. Lagu Eross yang dibawain Sheila Gank waktu ikutan Ajang Musikalnya G-Indie antara lain “Kita, For a While, First Love.” Yang ‘For a While’ dan ‘First Love’ dibikin barengan dengan Adam, Eross musiknya dan Adam liriknya. Bahasa Inggrisnya Adam kan jago. Lagu ‘Kita’ jadi favoritnya anak-anak muda di Jogja, banyak yang ngerequest lagu itu. Dengan modal itulah trus mereka berani nyoba untuk bawa karya mereka ke Jakarta. Tahun 1998 Eross dan Adam yang kebagian dapet tugas untuk membawa ‘demo’ mereka ke perusahaan rekaman di Jakarta. Cuman bermodal dua ratus ribu rupiah mereka ke Jakarta naik kereta ekonomi. Karena takut ntar di Jakarta butuh biaya banyak, di kereta itu mereka nggak makan. Tapi ada ibu-ibu yang begitu baik nawarin makanan (arem-arem), tentu aja mereka seneng bukan main. Karena belum hafal dengan jalanan di Jakarta, mereka sempet kesasar segala naik bisnya. Untung aja perjuangan itu membuahkan hasil. Waktu mereka nawarin ‘demo’ nya ke Sony Music Indonesia dan ketemu dengan Pak Jan Djuhana mereka dijanjiin akan dihubungi dua minggu kemudian. Berarti ada harapan, makanya mereka pulang. Tapi sempet mampir Bandung juga lho. Malahan di Bandung itu mereka makan terus. Nggak heran, waktu sampai Jogja Eross malah jadi mual-mual. Saking banyaknya yang dimakan. Mereka bales dendam sama makanan kali ya… he…he…he. Dukungan keluarganya sangat berarti buat Eross. Seperti yang dijanjiin oleh pihak Sony Music Indonesia, dua minggu setelah mereka nawarin ‘demo’, Sony Music Indonesia menghubungi dan menyuruh Sheila Gank untuk ke Jakarta. Lalu dikontrak, trus rekaman deh… fiuhh… Begitu album perdana Sheila on 7 keluar dan respon pasar bagus, tentu aja dong hal ini ada dampaknya buat Eross. Terlebih lagu Eross di album pertama dan kedua lebih dominan. Ada dampak baiknya juga ada dampak buruknya. Kayak lagu ‘Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki’ yang pernah bikin geger karna dituduh sebagai hasil jiplakan lagu ‘Father and Son’-nya Cat Stevens. Serentetan gosip tentang Eross, baik itu positif ato negatif. Trus Eross diminta juga tuk bikin lagu buat Memes, Rio Febrian, dan juga Tasya. Habis Eross emang keren sih kalo bikin lagu… tul nggak? Nah… kira-kira abis ini siapa lagi ya yang bakal dibikinin lagu sama Eross? Dari hasil tabungannya selama ini… Alhamdulillah Eross udah bisa ngebangun rumah yang diidam-idamkannya dari dulu. Sebelum Papa-nya meninggal, Papa-nya udah merancang rumah buat Eross. Kan dulu Papa-nya Eross arsitek bangunan. Jadi begitu Papa-nya meninggal Eross tinggal ngejalanin ide Papa-nya aja. Begitu rumahnya jadi, kan ada studionya tuh. Nah semenjak itu Eross jadi tambah betah di rumah. Hari-harinya diabisin di dalam studionya itu. Makanya Eross sekarang tambah putih wong jarang keluar rumah kalo siang. Paling kalo keluar siang cuman ke kantor Sheila Management, abis itu nongkrong deh ampe sore di studio Sheila Management. Trus… bikin lagu deh. Kalo udah bikin lagu gitu Eross mah anteng banget gak bisa diganggu gugat. Kan gawat kalo mood bikin lagunya ilang… he… he… he. Tapi kalo malem tetep aja dia masih suka nongkrong sama temen-temennya sesama musisi Jogja di daerah Gejayan, ada Pongki “Jikustik”, E’snanas, i hate mondayz, Shaggy Dog, CC Line, dll. Tumplek blek jadi satu. Biasalah… musisi kalo lagi pada ngumpul ngapain sih? Ya… genjreng-genjreng bareng gak karuan gitu dehh, sambil tuker pengalaman yang lucu-lucu. Yang jelas itu semua bisa bikin Eross tambah semangat bikin lagu. Eh, tau ngga… Eross pernah loh lagi main gitar sambil tiduran di kamarnya… eee… tau-tau malah ketiduran beneran. Alhasil gitarnya tetep masih ada di atas badannya deh. Abis Eross kalo dah main gitar sampe lupa waktu sih… cckk… ckk… segitu tergila-gilanya-kah Eross sama yang namanya gitar? He… he… he… Nah… kalo pengalaman Eross yang paling lucu sewaktu manggung di Surabaya. Sheila on 7 kan baru mo nyanyiin lagu “Kita” dan Duta pun sudah memancing ke penonton tuk ikut nyanyi lagu “Kita” tapi begitu lagu baru mo dimulai… eee… Eross malah memainkan lagu JAP. Wek!! Yo wes… akhirnya Sheila on 7 malah ngemainin lagu JAP deh. Biar gitu Sheila on 7 mainnya tetep kompak loh! Dan pengalaman yang paling berkesan buat Sheila on 7-nya sendiri adalah pada saat pertama kali manggung di Jogja tepatnya di UPN. Bayangin aja… semua penontonnya ikut nyanyi dan jingkrak-jingkrak. Anak-anak Sheila pada merinding saking terharunya ples seneng. Iya ga sih?? Maklum… kan mereka baru sekali manggung di Jogja. Jadi ngerasa surprise banget gituh. Hmm… impian Eross tuk rekaman dah tercapai, malah sekarang dah bikin 3 album. Kira-kira impian apalagi ya yang belum tercapai? Yup… sekarang Eross lagi pengen punya solo album! Kayaknya asik juga ya? Tapi itu belum tercapai. Mungkin Eross kudu nunggu bintang jatuh lagi kali ya biar keinginannya terkabul lagi. He… he… he… percaya enggak dulu waktu sebelum Sheila on 7 rekaman Eross pernah liat bintang jatuh trus dia ngucapin keinginannya dalam hati, “Aku pengen rekaman”. Ehhh… ga lama Sheila on 7 dipanggil Sony Music. Trus rekaman deh… Cighuyy!! Kebetulan, semua keluarganya Eross mendukung keinginannya. Dengan doa dan dukungan semuanya itu, Eross jadi bebas berkarya, berkarya, berkarya, dan berkaryaaaaaaaaaaaaa demi kemajuan musik Indonesia. Merdeka!!! (777)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.